Sabtu, 16 April 2011

hormone tiroid, antitiroid, estrogen, progesterone dan androgen


Tugas kelompok : farmakologi
Dosen                 : dr. Nurhira
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK V
1.      Nurkumalasari
2.      Nurlatifah
3.      Novalina Azis
4.      Muldaniyah
5.      Ika Nurhijrah Hakim
6.      Nurkadriah
7.      Novita Maman
8.      Nurlaela Safitri
9.      Siti Syara
10.  Mawar Handayani
11. Yuliarti 






     PRODI KEBIDANAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2010/2011










BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin atau kelenjar buntu. Kelenjar ini merupakan kelenjar yang tidak mempunyai saluran sehingga sekresinya akan masuk aliran darah dan mengikuti peredaran darah ke seluruh tubuh. Apabila sampai pada suatu organ target, maka hormon akan merangsang terjadinya perubahan. Pada umumnya pengaruh hormon berbeda dengan saraf. Perubahan yang dikontrol oleh hormon biasanya merupakan perubahan yang memerlukan waktu panjang. Contohnya pertumbuhan dan pemasakan seksual.
Didalam tubuh terdapat 2 (dua) system yang sangat berpenaruh terhadap semua kelangsungan hidup manusia yaitu : Sistem saraf dan sistem endokrin (sistem hormon). Dua system tersebut yaitu, Sistem saraf dan sistem endokrin saling berkoordinasi dan berintegrasi dalam pengaturan semua fungsi – fungsi dalam tubuh, sehingga semua fungsi dalam tubuh berjalanDengan baik.
Sistem endokrin bekerja dengan cara mengirimkan sinyal pada jaringan targetnya dengan jalan memproduksi hormon yang kadarnya dapat bervariasi dalam darah. Hormone tersebut mempengaruhi semua organ targetnya secara spesifik.
Sementara Sistem saraf bekerja menghantarkan pesan oleh neurotransmitter melalui transmisi impuls listrik pada serabut serabut saraf berakhir pada sel efektor.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah pengertian hormone tiroid, antitiroid, estrogen, progesterone dan androgen?
2.      Apasaja macam – macam obat hormone tiroid, antitiroid, estrogen, progesterone dan androgen?
3.      Bagaimana mekanisme kerja hormone tiroid, antitiroid, estrogen, progesterone dan androgen?
4.      Apa saja indikasi dan kontra indikasinya?
5.      Apa saja efek samping yang di timbulkan hormone tersebut?
6.      Bagaimana penanganan hormone tersebut?

C.     TUJUAN
1.      Untuk mengetahui pengertian hormone tiroid, antitiroid, estrogen, progesterone dan androgen?
2.      Untuk mengetahui macam – macam obat hormone tiroid, antitiroid, estrogen, progesterone dan androgen?
3.      Untuk mngetahui mekanisme kerja hormone tiroid, antitiroid, estrogen, progesterone dan androgen?
4.      Untuk mengetahui indikasi dan kontra indikasinya?
5.      Untuk mengetahui efek samping yang di timbulkan hormone tersebut?
6.      Untuk mengetahui penanganan hormone tersebut?



BAB II
PEMBAHASAN
A.    HORMON TIROID
1.      PENGERTIAN HORMON TIROID
Tiroid merupakan kelenjar kecil, dengan diameter sekitar 5 cm dan terletak di leher, tepat dibawah jakun. Kedua bagian tiroid dihubungkan oleh ismus, sehingga bentuknya menyerupai huruf H atau dasi kupu-kupu.
Kelenjar tiroid memproduksi hormone tiroid, yang akan disimpan sebagai residu asam amino dari tiroglobulin. Tiroglobulin merupakan glikoprotein yang menempati sebagian besar folikel koloid kelenjar tiroid.
2. BIOSINTESIS
Kelenjar tiroid memproduksi hormone tiroid, yang akan disimpan sebagai residu asam amino dari tiroglobulin. Tiroglobulin merupakan glikoprotein yang menempati sebagian besar folikel koloid kelenjar tiroid.
Secara garis besar, sintesis, penyimpanan, sekresi, dan konversi hormone tiroid terdiri dari beberapa tahap : (a) ambilan (uptake) ion yodida (I-) oleh kelenjar ; (b) oksidasi yodida dan yodinasi gugus tirosil pada tiroglobulin ; (c) penggabungan residu yodotirosin, a.l. menghasilkan yodotironin ; (d) resorpsi koloid tiroglobulin dari lumen kedalam sel ; (e) proteolisis tiroglobulin dan pengeluaran atau sekresi tiroksin (T4) triyodotironin (T3) ke aliran darah ; (f) recycling yodium diantara sel-sel tiroid melalui deyodinasi dari mono- dan diyodotirosin dan penggunaan kembali ion yodida (I-) ; dan (g) konversi T4 menjadi T3 di jaringan perifer dan dalam kelenjar tiroid.
(a). Ambilan yodida
Yodium dari makanan mencapai sirkulasi dalam bentuk yodida. Pada keadaan normal kadarnya dalam darah sangat rendah (0,2-0,4 µg/dL), tetapi kelenjar tiroid mampu menyerap yodida cukup kuat, hingga yodida dalam kelenjar mencapai 20-50 kali, bahkan bila kelenjar terangsang mencapai 100 kali dari kadar plasma. Mekanisme transport yodida ke kelenjar dihambat beberapa ion, missal tiosianat dan perklorat. Sistem transport yodida ini dipicu hormon tirotropin dari adenohipofisis (thyroid-stimulating hormone, TSH). Yang diatur oleh mekanisme aoturegulasi. Karenanya bila simpanan yodium di kelenjar rendah ambilan yodida akan dipicu dan sebaliknya pemberian yodida akan menekan mekanisme diatas.
Mekanisme yang sama dijumpai pula pada alat lain misalnya kelenjar ludah, mukosa lambung, kulit, kelenjar mamae dan plasenta yang dapat mempertahankan kadar yodida 10-50 kali lebih tinggi dari dalam darah.
(b). Oksidasi dan yodinasi
Oksidasi yodida menjadi bentuk aktifnya diperantarai tiroid peroksidase, enzim yang mengandung heme, dan menggunakan H2O2 sebagai oksidan. Enzi mini berada di membrane sel dan terkonsentrasi di permukaan paling atas dari kelenjar. Reaksi ini menghasilkan residu monoyodotirosil (MT) dan diyodotirosil (DIT) dalam tiroglobulin, tepat sebelum penyimpanan ekstraselularnya di lumen folikel kelenjar. Reaksi tersebut dirangsang TSH.
(c). Pembentukan tiroksin dan triyodotironin dari yodotirosin
Tahap berikutnya, pembentukan triyodotironin dari residu monoyodotirosil dan diyodotirosil. Reaksi oksidasi ini juga dikatalisasi oleh enzim tiroid peroksidase. Kecepatan pembentukan tiroksin dipengaruhi kadar TSH dan tersedianya yodida. Telah diketahui bahwwa terdapat hubungan antara jumlah tiroksin dan triyodotironin yang terbentuk dalam kelenjar  dan tersedianya jumlah yodida atau kedua yodotirosin ; misalnya pada yikus, bila terjadi defisiensi yodium pada kelenjar tiroid, rasio tiroksin/triyodotironin akan menurun dari 4:1 menjadi 1:3. Karena T3 merupakan bentuk transkripsi aktif yodotironin dan hanya mengandung sekitar tiga per empat bagian yodium, penurunan jumlah yodium yang tersedia hanya sedikit berpengaruh terhadap jumlah hormone tiroid yang keluar dari kelenjar.
(d). Resorpsi
(e). Proteolisis koloid
(f). Sekresi hormone tiroid
Karena T3 dan T4 disintesis dan disimpan sebagai bagian dari tiroglobulin, maka untuk sekresinya diperlukan proses proteolisis. Proses ini dimulai dari endositosis koloid dari lumen folikel pada permukaan sel, dengan bantuan reseptor tiroglobulin, yakni megalin. Tiroglobulin harus dipecah dahulu menjadi beberapa asam amino, agar hormon tiroid dapat dilepaskan, proses ini dibantu oleh TSH. Pada saat tiroglobulin terhidrolisis, monoyodotirosin dan diyodotirosin juga dilepaskan tetapi tetap berada dalam kelenjar ; sedangkan yodium yang dilepaskan sebagai yodida akan tergabung lagi dengan protein. Molekul tiroglobulin dibentuk oleh 300 residu karbohidrat dan 5500 residu asam amino dan hanya 2-5 diantaranya adalah T4 ; dengan demikian untuk melepaskan hormon tiroid, molekul tiroglobulin harus dipecah menjadi gugus-gugus asam amino. Mekanisme ini dipicu oleh hormon tirotropin.
(g). Konversi tiroksin menjadi triyodotironin di jaringan perifer
Pada keadaan normal produksi tiroksin (T4) sehari antara 70-90 µg, sedangkan triyodotironin (T3) 15-30 µg. Meski T3 diproduksi kelenjar tiroid, sekitar 80% T3 di sirkulasi adalah hasil metabolisme T4 yang terjadi melalui sekuensial monodeyodinasi di jaringan perifer. Sebagian besar konversi T4 menjadi T3 diluar kelenjar, yakni terjadi di hati. Karenanya bila tiroksin diberikan pada pasien hipotiroid dengan dosis yang dapat menormalkan tiroksin plasma, kadar T3 plasma juga akan mencapai normal. Hampir semua jaringan perifer menggunakan T3 yang berasal dari hormon tiroid di sirkulasi, kecuali otak dan adenohipofisis. Pada keadaan normal sekitar 41% T4 akan dikonversi menjadi T3, kira-kira 38% menjadi rT3 (reverse T3) yang tidak aktif, dan 21% dimetabolisme melalui jalur lain, a.l.melalui konjugasi di hati dan diekskresi melaui empedu. Kadar T4 plasma yang normal berkisar antara 4,5 sampai 11 µg/dL, sedangkan T3 hanya sekitar seperseratusnya (60-180 µg/dL).
Konversi diatas dikatalisasi oleh enzim yodotironin 5’-deyodinase, dengan 3 tipe isozim, Isozim tipe I 5’-deiodinase (D1) ditemukan dihati, ginjal, dan di kelenjar, berperan pada pembentukan T3 yang berada di sirkulasi, dan digunakan oleh hampir semua jaringan. Isozim D1 ini dapat dihambat oleh banyak hal, a.l. Keadaan malnutrisi, glukokortiroid, penghambat reseptor-β (missal: propranolol dosis tinggi), obat antitiroid propiltiourasil, asam lemak dan amiodaron.

3. FARMAKOKINETIK DAN TRANSPORT TIROID
Pada keadaan normal, yodium disirkulasi terdapat dalam berbagai bentuk, sekitar 95% sebagai yodium organik dan hampir 5% sebagai yodida. Sebagian besar (90%-95%) yodium organik berada dalam bentuk tiroksin, dan hanya sebagian kecil (5%) berada di triyodotironin.
Dalam darah hormone tiroid terikat kuat pada berbagai protein plasma, dalam bentuk ikatan non kovalen. Sebagian besar hormon ini terikat pada thyroxine-binding globulin (TBG), T3 ikatannya sangat lemah dan mudah terlepas kembali, karenanya T3 mula kerjanya lebih cepat dari T4, serta masa kerjanya lebih singkat dari T4. Tiroksin juga terikat transtiretin (thyroxine-binding prealbumin), suatu retinol-binding protein, yang kadarnya lebih tinggi dari TBG dan terutama mengikat tiroksin. Adanya ikatan hormon tiroid dengan protein plasma, menyebabkan tidak mudahnya hormon ini di metabolisme dan di ekskresi, sehingga masa paruhnya cukup panjang.
Hanya sedikit tiroksin yang terikat albumin dan hampir tidak mempunyai peran fisiologik, kecuali pada famial dysalbuminemic hyperthyroxinemia. Sindroma ini merupakan kelainan autosomal yang dominan, ditandai dengan meningkatnya afinitas albumin terhadap tiroksin akibat terjadinya mutasi gen albumin.
Besarnya aktivitas biologik hormon tiroid ditentukan oleh jumlah hormon tiroid bebas dalam plasma. Jumlah ini a.l.tergantung dari jumlah TBG plasma. Selama jumlah hormon tiroid bebas diplasma dalam batas normal, tidak akan timbul gejala hipofungsi atau hiperfungsi tiroid.
Ikatan hormon tiroid dengan protein plasma dapat memproteksi hormon ini dari proses metabolisme dan ekskresi, sehingga masa-paruhnya dalam sirkulasi panjang. Hanya sekitar 0,03% tiroksin dan 0,3% triyodotironin dari total hormon tersebut berada dalam keadaan bebas.
Aktivitas metabolik hormon tiroid hanya dapat dilakukan oleh hormon yang bebas. Karena afinitas pengikatannya dengan protein plasma tinggi, maka adanya perubahan kadar protein plasma atau afinitas ikatannya, akan mempengaruhi kadar total hormon dalam serum. Beberapa obat dan berbagai kondisi patologik dan fisiologik, misalnya peningkatan kadar estrogen plasma pada kehamilan atau terapi dengan estrogen atau penggunaan kontrasepsi hormonal oral, dapat meningkatkan pengikatan tiroid dengan protein plasma dan kadar proteinnya. Karena adenohipofisis hanya dipengaruhi dan meregulasi hormon tiroid yang bebas, maka keadaan diatas hanya sedikit mempengaruhi perubahan kadar hormon bebas dalam sirkulasi. Karenanya tes laboratorium yang hanya mengukur kadar hormon total secara keseluruhan dapat menyesatkan diagnosis. Tabel 27-1, memperlihatkan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi pengikatan hormon tiroid dengan TBG.
Tabel 27-1 FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MEMPENGARUHI PENGIKATAN HORMON TIROID DENGAN TBG
Meningkatkan Ikatan
Menurunkan Ikatan
Jenis obat
Estrogen
Metadon
Klofibrat
5-fluorourasil
Heroin
Tarnoksifen
Selective estrogen
Receptor modulators

Faktor sistemik
Penyakit hati
Porfiria
Infeksi HIV
Penyakit congenital

Glukokortikoid
Androgen
L-Asparaginase
Salisilat
Asam mefenamat
Antiepilepsi (fenitoin, karbamazepin)
Furosemid



Penyakit congenital
Penyakit akut dan kronik

BIOTRANSFORMASI DAN EKSKRESI
Tiroksin lambat sekali dieliminasi dari tubuh, dengan masa paruh 6-8 hari. Pada hipertiroidisme masa paruhnya memendek 3-4 hari. Dan pada hipotiroidisme memanjang 9-10 hari. Perubahan ini dapat menggambarkan adanya perubahan dalam kecepatan metabolismenya. Bila pengikatannya denga TBG meningkat, misalnya pada kehamilan, klirensnya akan terganggu. Peningkatan TBG ini terjadi karena estrogen dapat menginduksi peningkatan asam sialat dalam TBG yang terbentuk, dan menyebabkan klirensnya menurun. Keadaan sebaliknya akan terjadi bila ikatannya dengan protein menurun atau bila terjadi hambatan pengikatan oleh beberapa obat seperti tertera pada table 27-1. T3 yang ikatannya dengan protein tidak terlalu kuat, masa paruhnya hanya sekitar 1 jam.
Degradasi non-deyodinasi hormon tiroid sebagian besar terjadi di hati ; T4 dan T3 akan terkonjugasi dengan asam glukoronat dan sulfat, dan akan di ekskresi melalui empedu. Sebagian dari hormon yang telah terkonjugasi  ini akan dihidrolisis di usus halus, dan tiroid yang bebas ini akan di reabsorpsi. Bentuk terkonjugasi yang lain akan sampai di kolon, yang kemudian akan dihidrolisis dan di eliminasi melalui feses dalam bentuk bebas.
Seperti diuraikan di atas, sebagian besar T4 mengalami deyodinasi menjadi T3 atau rT3. Triyodotironin dan rT3 mengalami deyodinasi menjadi 3 diyodotironin yang berbeda, yang akan mengalami deyodinasi lebih lanjut menjadi 2 monoyodotironin, yang merupakan metabolit inaktif dan pada keadaan normal berada pada plasma.

4.   MEKANISME KERJA
Meski mekanisme kerja tiroksin yang tepat belum diketahui semua, tapi nampaknya hormon ini bekerja melalui reseptornya di inti sel. Triyodotironin berikatan dengan afinitas yang tinggi pada reseptor di inti sel, yang kemudian terikat pada sekuen DNA yang spesifik (thyroid hormone response elements, TREs) pada gen target. Disini triyodotironin memodulasi transkripsi gen, dan terjadi sintesis protein. T4 juga berikatan pada reseptor yang sama, tetapi dengan afinitas lebih rendah dari T3, dan tidak menyebabkan transkripsi gen. Karenanya T4 diduga berada sebagai prohormon, dan semua transkripsi gen dilakukan oleh T3.
5. EFEK HORMON TIROID
·         Pertumbuhan dan perkembangan
Efek hormone tiroid timbul melalui regulasi transkripsi DNA, yang merangsang sintesis protein, dan selanjutnya mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan normal. Karenanya hormone ini penting untuk proses pertumbuhan normal.
Hormon ini mempunyai peran yang sangat penting pada pertumbuhan otak. Bila karena sesuatu sebab tiroid tidak ada pada masa neurogenesis yang aktif (usia 0 sampai 6 bulan pascapersalinan), dapat terjadi retardasi mental yang ireversibel (kretinisme) dan akan diikuti oleh gangguan morfologik multipel pada otak. Pemberian hormone tiroid dalam masa 2 minggu pascapersalinan pada pasien ini, dapat mencegah berkembangnya gangguan morfologik tersebut..
Efek hormon ini pada sintesis protein dan aktivitas enzim tidak terbatas hanya pada otak saja, tetapi sebagian besar jaringan tubuh juga dapat dipengaruhi, ini terlihat dari gejala yang timbul pada hipertiroidisme ataupun hipotiroidisme.
Kretinisme umumnya dibedakan sebagai endemik atau sporadik. Jenis pertama banyak terjadi di daerah dimana banyak terjadi goiter endemik akibat sangat kekurangan yodium. Jenis kretinisme ini dapat terjadi dengan atau tanpa goiter. Kretinisme sporadik terjadi akibat tidak berkembangnya kelenjar tiroid atau terganggunya sintesis hormon tiroid. Bila terjadi gangguan sintesis hormon, akan disertai goiter.
Sering terjadi kretinisme yang tidak terdeteksi sampai bayi atau pasien berusia 3-5 bulan, sehingga sering tidak segera diobati. Bila ini terjadi maka anak dalam masa pertumbuhannya akan mengalami dwarfism dengan ekstremitas pendek, retardasi mental, anak menjadi inaktif, muka tidak mempunyai ekspresi, lidah membesar dan mungkin menjulur keluar dari mulut dengan bibir yang tebal. Kulit pasien terasa kering dan bila tersentuh terasa dingin, denyut jantung lambat, suhu tubuh rendah, penutupan fontanel terlambat, nafsu makan kurang, dan sering mengalami konstipasi.
Terapi yang tepat, terutama pada daerah endemis kretinisme adalah dengan pemberian yodium yang cukup sebelum terjadi kehamilan. Pemberian yodium pada kehamilan sampai akhir trimester kedua dapat mempercepat perkembangan neurologik dan psikologik anak. Skrining adanya defisiensi fungsi tiroid pada bayi baru lahir, terutama untuk daerah endemis, perlu dilakukan.
·         Efek kalorigenik
Tiroksin meningkatkan penggunaan O2 hampir pada semua jaringan yang aktif dalam proses metabolisme, a.l.jantung, otot rangka, hati, dan ginjal. Beberapa organ lain tidak responsif terhadap efek ini, a.l. otak, gonad, limpa.
Dengan meningkatnya metabolisme oleh tiroksin, maka kebutuhan tubuh akan semua zat makanan (karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral) juga bertambah. Apabila kebutuhan ini tidak mencukupi, maka protein dan lemak endogen serta persediaan zat makanan lain dalam tubuh akan dimobilisasi. Proses katabolisme yang berlebihan terjadi pada otot dan tulang, hal inilah yang mengakibatkan timbulnya kelemahan otot dan kreatinuria (miopati tirotoksik); selain itu ekskresi kalium, asam urat dan heksosamin dalam urin juga bertambah. Kadang-kadang proses tersebut begitu hebat sehingga timbul gejala defisiensi vitamin dan osteoporosis.
Tiroksin berperan penting dalam termogenesis (pengaturan suhu badan) yaitu pada suhu dingin: sekresi tiroksin bertambah, pembentukan kalori bertambah, terjadi vasodilatasi perifer dan curah jantung bertambah.
·         Efek metabolik
Hormon tiroid merangsang metabolisme kolesterol menjadi asam empedu, dan hiperkolesterolemia merupakan keadaan karakteristik pada hipotiroidisme. Hormon ini dapat meningkatkan pengikatan LDL (low-density lipoprotein) di sel-sel hati, pada hipotiroidisme akan terjadi penurunan jumlah reseptor LDL pada permukaan hepatosit sangat menentukan kadar kolestrol plasma.
Respons sel-sel lemak terhadap efek lipolisis hormon lain (missal katekolamin) akan meningkat karena adanya hormone tiroid; dan pada hipertiroidisme akan terjadi peningkatan asam lemak bebas plasma. Tidak seperti hormon lipolitik lain, hormon ini tidak secara langsung meningkatkan akumulasi siklik AMP. Mungkin hormon tiroid mengatur kemampuan hormon  lain untuk menambah akumulasi siklik AMP dengan jalan mengurangi aktivitas fosfodiestarase mikrosom yang dapat menghidrolisis siklik AMP.
Pasien tirotoksikosis akan mengalami resis tensi insulin, karenanya adanya kelainan reseptor di hati dan jaringan perifer ditandai dengan pengosongan penyimpanan glikogen dan meningkatnya glukogenesis. Hal ini akan disertai dengan bertambahnya absorpsi glukosa dan usus. Sebagai kompensasi untuk mempertahankan keadaan euglikemi terjadi peningkatan sekresi insulin. Secara klinis hal ini akan didiagnosis sebagai diabetes pada pasien yang tirotoksisnya tidak terdiagnosa atau akan meningkatkan kebutuhan insulin pada pasien yang sedang menggunakan insulin.
Pada hipotiroidisme terjadi penurunan absorpsi glukosa di usus, sekresi insulin menurun, kecepatan uptake glukosa di perifer berkurang; tetapi penggunaan glukosa di otak tidak dipengaruhi. Kebutuhan insulin akan berkurang pada hipotiroidisme dengan diabetes.

5. GANGGUAN FUNGSI
o  Hipofungsi tiroid
Hipotiroidisme, bila hebat disebut miksedema, merupakan penyakit gangguan tiroid yang paling umum. Hampir diseluruh dunia, hal ini disebabkan karena defisiensi yodium; pada daerah non-endemik dimana yodium cukup tersedia, umumnya disebabkan karena tiroiditis autoimun yang kronik (tiroiditis hashimoto). Penyakit ini ditandai oleh tingginya antibodi terhadap peroksidase tiroid di sirkulasi, dan mungkin juga dengan kadar tiroglobulin yang tinggi meski ini lebih jarang terjadi. Dapat juga terjadi hambatan antibodi terhadap reseptor TSH, terjadi eksaserbasi hipotiroidisme.
Kegagalan kelenjar tiroid untuk memproduksi hormon tiroid yang cukup merupakan penyebab yang paling umum dari hipotiroidisme dan ini disebut sebagai hipotiroidisme primer. Hipotiroidisme sentral (central hypotiroidism) yang lebih jarang terjadi, disebabkan karena efek stimulasi dari TSH yang kurang, akibat gangguan pada adenohipofisis (hipotiroidisme sekunder) atau akibat gangguan hipotalamus (hipotiroidisme tersier). Hipotiroidisme kongenital yang terjadi saat bayi baru lahior dan timbulnya retardasi mental paling mungkin dicegah diagnose dan terapi dini dengan hormon tiroid dapat mencegah terjadinya kretinisme.
Hipotiroidisme non-goiter umumnya berhubungan dengan degenerasi dan atrofi kelenjar atau terjadi setelah operasi tiroid atau destruksi akibat yodium radioaktif. Karena jenis hipotirodisme ini dapat terjadi sesudah penggunaan obat antitiroid pada pasien dengan penyakit grave . Ada pendapat bahwa keadaan ini dapat merupakan fase akhir (end state) dari penyakit Grave (burnt-out Grave’s disease).
Hipotiroidisme dengan goiter terjadi pada tiroiditis Hashimoto, atau bila ada gangguan sintesis hormon tiroid yang hebat, bila penyakit ini bersifat ringan, gejala tidak nyata, sementara progresivitas penyakit dapat berjalan terus akibatnya gejala yang timbul berlebihan. Gambaran klinis pada pasien sangat spesifik, a.l. muka tampak sangat ekspresif, membengkak, pucat, kulit dingin dan kering, kulit kepala berisisik, rambut kasar dan kering dan mudah lepas, kuku jari menebal dan rapuh, mungkin timbul edema, suara parau dengan nada rendah, bicaranya lambat, gangguan daya piker, dan mungkin mengalami depresi, terjadi gejala gangguan saluran cerna, nafsu makan kurang, motilitas usus berkurang hingga sering terjadi distensi abdominal dan konstipasi. Tonus otot kandung kemih juga berkurang sehingga mudah terjadi retensi urin. Pada pasien wanita dapat timbul gangguan haid.
o   Hiperfungsi tiroid
Tirotoksikosis adalah keadaan yang disebabkan oleh meningkatnya hormon tiroid bebas dalam darah. Sindroma ini dapat disebabkan oleh berbagai hal. Hipertiroidisme adalah keadaan dimana produksi dan sekresi hormon tiroid meningkat akibat hiperfungsi kelenjar tiroid. Pada keadaan ini uptake yodium oleh kelenjar meningkat, ini dibuktikan dengan tes uptake yodium radioaktif (123I atau 131I; radioactive iodine uptake=RAIU) selama 24 jam. Sebaliknya pada radang atau destruksi kelenjar tiroid , RAIU 24 jam rendah. Yang disebut sebagai subclinical hyperthyroidism adalah apabila adanya beberapa gejala hipertiroidisme dengan kadar TSH plasma yang rendah dengan kadar T3 dan T4 yang normal.
Penyakit Grave atau toxic diffuse goiter, merupakan penyebab paling sering dari tirotoksikosis dengan RAIU yang tinggi. Penyakit ini lebih umum terjadi pada usia antara 20-50 tahun. Kelainan ini merupakan penyakit autoimun yang ditandai dengan hipertiroidisme, goiter yang bersifat difus, dan adanya antibodi lgG yang mengikat dan mengaktifkan reseptor TSH. Pada daerah dengan defisiensi yodium (daerah endemik), penyakit ini jarang terjadi. Penyakit Grave, akan disertai gejala mata, eksoftalmus, akibat reaksi inflamasi autoimun yang mengenai daerah jaringan periorbital dan otot-otot ekstraokular.
Pada destruksi kelenjar tiroid dan tirotoksikosis akibat penggunaan hormone tiroid eksogen akan didapati kadar RAIU yang rendah. Tirotoksikosis dengan RAIU rendah akibat tiroiditis subakut disertai rasa sakit dan tiroiditis tanpa rasa sakit (silent) terjadi sekitar 5% samapi 20% dari seluruh kasus. Di Amerika Serikat, 7% sampai 10% silent thyroiditis terjadi pada wanita pascapersalinan.
Hampir semua keluhan dan gejala tirotoksikosis terjadi karena pembentukan panas yang berlebihan, peningkatan aktivitas motorik dan aktivitas saraf simpatis. Kulit kemerahan, panas, lembab, otot lemah dan terlihat tremor, frekuensi denyut nadi dan jantung cepat. Semua ini menyebabkan nafsu makan bertambah, dan bila kebutuhan ini tidak dipenuhi maka berat badan akan menurun. Mungkin pasien mengeluh sukar tidur, cemas, dan gelisah, tidak tahan hawa panas dan peristaltic usus meningkat. Tirotoksikosis yang tidak terdiagnosis setelah berlangsung lama atau terapinya tidak maksimal, dapat mengalami miopatia, atau osteoporosis akibat peningkatan bone-turnover.
6. TES FUNGSI TIROID
Dengan radioimmunoassay, chemiluminescent, dan enzyme-linked immunoassay, sekarang dapat dilakukan pengukuran kadar T4, T3, dan TSH darah, dan diagnosis laboratorium gangguan fungsi tiroid menjadi lebih baik. Tetapi pengukuran kadar total hormon diplasma tidak dapat menggambarkan aktivitas kelenjar tiroid secara akurat. Kadar total hormon ini akan berubah bila terjadi perubahan pada jumlah TBG plasma atau pada afinitas pengikatan TBg terhadap hormon tiroid.
Pengukuran kadar TSH serum pada pasien dengan kelainan fungsi adenohipofisis dan sekresi TSH yang normal, dapat digunakan sebagai pilihan untuk mengetahui fungsi kelenjar tiroid, karena sekresi TSH dari adenohipofisis sangat tergantung dari kadar hormon tiroid di sirkulasi.
Meski pengukuran kadar TSH sangat berguna untuk menentukan keadaan eutiroid dan untuk titrasi dosis tiroid; pada replacement therapy pasien dengan hipotiroidisme primer, kadar TSH serum yang abnormal tidak selalu menunjukkan adanya disfungsi kelenjar tiroid. Pada pasien ini pengukuran kadar hormon tiroid di sirkulasi dapat membantu menentukan ada tidaknya gangguan fungsi tiroid.
Sekarang telah tersedia recombinant human TSH (thyrotropin alpha, tirogen), dalam bentuk preparat suntikan. Preparat ini digunakan untuk mengetahui kapasitas jaringan tiroid dalam mengambil yodium radioaktif dan melepaskan tiroglobulin, pada keadaan normal atau pada keganasan. Tirogen menggantikan bovine TSH (titropar) yang sering menyebabkan efek samping, a.l. anafilaksis.
7. INDIKASI
Thyroid hormone replacement therapy
Tiroksin (Na-levotiroksin; L-T4) merupakan obat pilihan utama untuk replacement therapy pada hipotiroidisme atau kretinisme, karena potensinya konsisten dan lama kerjanya panjang. Absorpsinya di usus halus bervariasi dan tidak lengkap. Beberapa obat dapat menghambat absorpsi levotiroksin, a.l. sukralfat, resin kolestiramin, Fe, kalsium, Al (OH)3. Ekskresi bilier dapat meningkat bila diberikan bersama obat yang menginduksi sitokrom (CYP), seperti fenitoin, karbamazepin, dan rifampin. Pada keadaan ini perlu dipikirkan penambahan dosis levotiroksin oral. Triyodotironin (Na-liotironin) dapat digunakan bila diperlukan obat dengan mula kerja lebih cepat, missal pada koma miksedema (meski jarang) atau untuk persiapan terapi yodium radioaktif (131I) pada kanker tiroid. Liotironin jarang digunakan pada replacement therapy jangka panjang karena pemberiannya harus lebih sering, dibutuhkan dana besar, dan akan terjadi peningkatan T3 meski berlangsung sebentar.
Dosis levotiroksin untuk replacement therapy 112 µg sebagai dosis tunggal, untuk liotironin 50-75 µg dibagi dalam beberapa kali pemberian. Karena masa paruh tiroksin panjang (7 hari), keadaan kadar mantap tercapai setelah sekitar 5 minggu, karenanya reevaluasi terapi dengan mengukur kadar TSH plasma sebaiknya dilakukan pada minggu-minggu ke 6-8 pengobatan. Tujuan terapi ini untuk mencapai kisaran kadar TSH normal (0,5-5,0 µIU/mL), bila terapi berlebihan akan terjadi supresi TSH sampai subnormal, dan dapat menyebabkan osteoporosis dan disfungsi jantung. Pada pasien muda yang kurang patuh minum obat, levotiroksin diberikan 1 kali seminggu, dosis harus yang cukup aman dan efektif. Pasien usia lanjut diberikan dosis harus yang cukup aman dan efektif. Pasien usia lanjut diberikan dosis 25-50 µg sehari untuk mencegah eksaserbasi penyakit jantung yang tidak terdiagnosis.
Hipotiroidisme subklinis
Merupakan suati hipotiroidisme dengan sedikit gejala klinis yang disertai peningkatan TSH plasma. Insidensnya 15%, pada usia lanjut 25%. Terapi dilakukan dengan levotiroksin untuk menormalkan TSH, dan hasilnya sangat bervariasi. Mungkin preparat ini bermanfaat untuk hipotiroidisme subklinis yang disertai goiter, penyakit autoimun disfungsi kognitif atau kehamilan.
Pada pasien hipotiroidisme dengan kehamilan, dosis levotiroksin sering harus dinaikkan karena kadar TBG yang meningkat akibat estrogen yang meningkat dan sebagian obat dapat berpindah melalui plasenta ke janin. Kehamilan dapat menyebabkan tidak terdiagnosisnya hipotiroidisme autoimun yang baru akan timbul, atau pada pasien yang tinggal di daerah endemis (kekurangan yodium). Hipotiroidisme pada masa kehamilan dapat menyebabkan gangguan mental dan fisik fetus. Karenanya sangat dianjurkan untuk pemeriksaan TSH pada kehamilan dini (trimester I), terutama pada para ibu yang tinggal di daerah endemik.
Koma miksedema
Sindroma ini jarang terjadi, dan disebabkan oleh hipotioridisme yang hebat dan berlangsung lama. Keadaan ini termasuk gawat darurat, yang meskipun segera diobati, mortalitasnya 60%. Di Negara Barat, sering terjadi pada usia lanjut di musim dingin. Faktor predisposisi a.l. infeksi paru, penyakit serebrovaskuler, dan gagal jantung kongestif. Kecuali terapi suportif yang umum diberikan pada pasien gawat darurat, perlu diberikan juga tiroksin parenteral mengingat keadaan pasien, absorpsi per oral akan terganggu. Pemberian IV 200-300 µg levotiroksin, sesudah 24 jam diberikan lagi 100 µg. Pada pasien dengan usia kurang dari 50 tahun tanpa penyakit jantung dapat diberikan bolus tiroksin 500 µg oral atau melalui nasogastric tube. Dosis tiroksin harus disesuaikan dengan keadaan stabilitas hemodinamik, adanya gangguan jantung, dan keadaan keseimbangan elektrolit pasien. Terapi yang berlebihan justru dapat bersifat fatal.
Nodul dan kanker tiroid
Nodul tiroid lebih sering terjadi pada wanita. Persentase kejadian sekitar 0,1% per tahun, dan akan meningkat 20 kali lebih banyak pada pasien yang mengalami radiasi ionisasi. Dari jumlah pasien dengan nodul tersebut, diperkirakan 8-10% mempunyai kanker tiroid. Tindakan utama untuk kanker tiroid adalah operasi diikuti terapi dengan levotiroksin.
Pemberian levotiroksin pada nodul soliter dapat mensupresi TSH serum, diharapkan nodul tidak akan membesar lagi atau ukurannya berkurang. Keberhasilan ini dapat dilihat dengan pemeriksaan kadar TSH serum dan radioisotope scanning. Bila TSH telah menurun, dilakukan scanning ulangan (suppression scan), dan bila ternyata ukuran nodul tidak berubah, levotiroksin harus dihentikan. Suppression scan harus dihindari pada pasien usia lanjut dan pasien penyakit jantung koroner.
Pada nodul yang dapat mengecil dengan terapi levotiroksin, terapi dapat dilanjutkan. Bila setelah 6-12 bulan terapi ukuran nodul menetap, obat harus dihentikan, dan diobservasi apakah bertambah besar lagi. Bila nodul terus bertambah besar, harus dilakukan biopsy, bila perlu dioperasi.
Kretinisme
Keberhasilan terapimkretinisme, sangat tergantung pada saat dimulainya terapi; jika terapi dimulai sejak bayi baru lahir umumnya gangguan perkembangan fisik dan mental dapat dicega. Karena umumnya diagnosis sukar ditegakkan, pasien baru berobat saat gejalanya sudah nyata, saat tersebut justru sudah terlambat untuk mencegah gangguan perkembangan mental. Jika kelainannya terletak pada pembentukan tiroid, timbulnya gangguan mental sukar sekali dicegah, meskipun terapi diberikan sedini mungkin. Saat yang kritis adalah saat mielinisasi SSP yang terjadi pada saat bayi baru lahir. Dianjurkan pemberian 10-15 µg/kg sehari pada hipotiroidisme congenital. Setelah 1-22 minggu akan meningkatkan kadar total serum tiroksin pada sebagian bayi baru lahir. Selama 6 bulan pertama terapi dosis untuk setiap pasien disesuaikan dengan interval waktu 4 sampai 6 minggu, kemudian dengan interval 2 bulan pada bulan-bulan ke 6 sampai ke 18 bulan pengobatan, dan setelah itu dengan interval 3-6 bulan untuk dapat mempertahankan kadar tiroksin serum antara 10-16 µg/dL dan TSH serum yang normal. Kadar tiroksin bebas harus dipertahankan pada nilai diatas normal. Hormone-replacement ini harus disertai monitoring pertumbuhan, perkembangan motorik, maturasi tulang, dan kemajuan perkembangan si bayi.

8. SEDIAAN
Na-levotiroksin (T4) terdapat dalam bentuk tablet dan sediaan suntikan (IV). Tablet mengandung zat aktif 0.025 mg, 0,05 mg, 0,1 mg, 0,15 mg, 0,2 mg, dan 0,3 mg, sedangkan sediaan suntikan 10 mL mengandung 0,1 dan 0,5 mg/mL.
Na-liotironin (T3) terdapat dalam bentuk tablet 5 µg, 25 µg, dan 50 µg.
Liotriks (Rasio T4:T3 = 4:10) terdapat dalam bentuk tablet 12.5 ; 25 ; 30 ; 50 µg.

B.     ANTITIROID
1.      PENGERTIAN ANTITIROID
Antitiroid obat: Sebuah obat diarahkan terhadap kelenjar tiroid . Obat-obatan antitiroid termasuk golongan tionamida yaitu ; carbimazole, methimazole, dan propylthiouracil (PTU) . Obat ini digunakan untuk mengobati hipertiroidisme (overactivity dari kelenjar tiroid) untuk mengurangi aktivitas tiroid yang berlebihan sebelum operasi dan untuk mengobati dan menjaga pasien yang tidak menjalani operasi.

2.      ANTITIROID DAN PENGHAMBAT TIROID LAINNYA
Ada 4 golongan penghambat sintesis hormone tiroid yaitu :
1.      Antitiroid, yang menghambat sintesis hormone secara langsung
2.      Penghambat ion, yang memblok mekanisme transport yodida
3.      Yodium dengan konsentrasi tinggi, yang dapat mengurangi sintesis dan pengeluaran hormone dari kelenjarnya
4.      Yodium radioaktif, yang merusak kelenjar dengan radiasi ionisasi.
Juga ada beberapa obat yang tidak berefek pada hormone di kelenjar, tetapi digunakan sebagai terapi ajuvan, bermanfaat untuk mengatasi gejala tirotoksikosis, misalnya antagonis reseptor-β dan penghambat kanal Ca++
3.      MACAM – MACAM OBAT ANTITIROID
  PROPILTIOURASIL (PTU)
Nama generik : Propiltiourasil
Nama dagang di Indonesia : Propiltiouracil (generik)
Indikasi : hipertiroidisme
Kontraindikasi : hipersensisitif terhadap Propiltiourasil, blocking replacement regimen tidak boleh diberikan pada kehamilan dan masa menyusui.
·         METHIMAZOLE
Nama generik : methimazole
Nama dagang : Tapazole
Indikasi : agent antitiroid
Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap methimazole dan wanita hamil.
Bentuk sediaan : tablet 5 mg, 10 mg, 20 mg
Dosis dan aturan pakai : untuk anak 0,4 mg/kg/hari (3 x sehari); dosis pelihara 0,2 mg/kg/hari (3 x sehari). maksimum 30 mg dalam sehari.
Untuk dewasa: hipertiroidisme ringan 15 mg/hari; sedang 30-40 mg/hari; hipertiroid berat 60 mg/ hari; dosis pelihara 5-15 mg/hari.
Efek samping : sakit kepala, vertigo, mual muntah, konstipasi, nyeri lambung, edema.
Resiko khusus : pada pasien diatas 40 tahun hati-hati bisa meningkatkan myelosupression, kehamilan (Lacy, et al, 2006)
·         KARBIMAZOLE
Nama generik : Karbimazole
Nama dagang di Indonesia : Neo mecarzole (nicholas).
Indikasi : hipertiroidisme
Kontraindikasi : blocking replacement regimen tidak boleh diberikan pada kehamilan dan masa menyusui.
Bentuk sediaan : tablet 5 mg
Dosis dan aturan pakai : 30-60 mg/hari sampai dicapai eutiroid, lalu dosis diturunkan menjadi 5-20 mg/hari; biasanya terapi berlangsung 18 bulan.
Sebagai blocking replacement regimen, karbamizole 20 – 60 mg dikombinasikan dengan tiroksin 50 -150 mg.
Untuk dosis anak mulai dengan 15 mg/hari kemudian disesuaikan dengan respon.
Efek samping : ruam kulit, nyeri sendi, demam, nyeri tenggorokan, sakit kepala, ada kecendrungan pendarahan, mual muntah, leukopenia.
Resiko khusus : penggunaan pada pasien lebih dari 40 tahun karena PTU bisa menyebabkan hipoprotrombinemia dan pendarahan, kehamilan dan menyusui (Lacy, et al, 2006).

·         TIAMAZOLE
Nama generik : Tiamazole
Nama dagang di Indonesia : Thyrozol (Merck).
Indikasi : hipertiroidisme terutama untuk pasien muda, persiapan operasi.
Kontraindikasi : hipersensitivitas
Bentuk sediaan : tablet 5 mg, 10 mg
Dosis dan aturan pakai : untuk pemblokiran total produksi hormon tiroid 25-40 mg/hari; kasus ringan 10 mg (2 x sehari); kasus berat 20 mg (2 x sehari); setelah fungsi tiroid normal (3-8 minggu) dosis perlahan-lahan diturunkanhingga dosis pemelihara 5 – 10 mg/hari.
Efek samping : alergi kulit, perubahan pada sel darah, pembengkakan pada kelenjar ludah.
Resiko khusus : jangan diberikan pada saat kehamilan dan menyusui, hepatitis.

4.      MEKANISME KERJA
Antitiroid golongan tionamida, misalnya propiltiourasil, menghambat proses inkorporasi yodium pada residu tirosil dari tiroglobulin, dan juga menghambat penggabungan residu yodotirosil ini untuk membentuk yodotironin. Kerjanya dengan menghambat enzim peroksidase sehingga oksidasi ion yodida dan gugus yodotirosil terganggu.
Propiltiourasil juga menghambat deyodinasi tiroksin menjadi triyodotironin di jaringan perifer, sedangkan metimazol tidak memiliki efek ini.
5.      FARMAKOKINETIK
Data farmakokinetik anti tiroid dapat dilihat pada table 27-2. Tiourasil didistribusi ke seluruh jaringan tubuh dan diekskresi melalui urin dan air susu ibu, tetapi tidak melalui tinja.
Propiltiourasil pada dosis 100 mg mempunyai masa kerja 6-8 jam, sedangkan metimazol pada dosis 30-40 mg bekerja selama kira-kira 24 jam. Dengan dosis diatas, keadaan eutiroid biasanya tercapai dalam waktu 12 minggu. Setelah ini tercapai, dosis perlu dikurangi, tetapi terapi sebaiknya jangan dihentikan.
6.      EFEK SAMPING
Propiltiourasil dan metimazol jarang sekali menimbulkan efek samping dan bila timbul biasanya mempunyai gambaran yang sama ; frekuensinya kira-kira 3% untuk propiltiourasil dan 7% untuk metimazol. Agranulositosis akibat propiltiourasil hanya timbul dengan frekuensi 0,44% dan dengan metimazol hanya 0,12%. Meski jarang, agranulositosis merupakan efek samping serius, untuk metimazol efek samping ini bersifat tergantung dosis (dose-dependent) sedang untuk propiltiourasil tidak tergantung dosis. Reaksi yang paling sering timbul a.l. purpura dan popular rash yang kadang-kadang hilang sendiri. Gejala lain yang jarang sekali timbul a.l. nyeri dan kaku sendi, terutama pada tangan dan pergelangan. Reaksi demam obat, hepatitis dan nefritis dapat terjadi pada penggunaan propiltiourasil dosis tinggi.
7.      INDIKASI
Antitiroid digunakan untuk terapi hipertiroidisme, untuk mengatasi gejala klinik sambil menunggu remisi spontan, dan sebagai persiapan operasi. Juga dapat digunakan dalam kombinasi dengan yodium radioaktif untuk mempercepat perbaikan klinis sementara menunggu efek terapi yodium radioaktif.
Selain itu, antitiroid dapat digunakan untuk hipertiroidisme yang disertai dengan pembesaran kelenjar tiroid bentuk difus maupun noduler. Efek terapi umumnya tampak setelah 3-6 minggu terapi. Besarnya efek hambatan fungsi tiroid tergantung dari berat ringannya gangguan fungsi sebelum pemberian obat, jumlah hormone yang tersedia dan besarnya dosis yang diberikan. Dosis terapi biasanya tidak sampai menghambat fungsi tiroid secara total. Waktu yang diperlukan untuk menyembuhkan setiap pasien juga berlainan.
Apabila obat yang diberikan sudah melebihi kebutuhan, maka pada pasien tampak gejala hipotiroidisme, misalnya lemah, kantuk serta nyeri otot dan sendi. Kadang-kadang gejala hipotiroidisme yang timbul begitu hebat hingga pasien perlu mendapat sediaan tiroid. Dalam keadaan ini hendaknya pemberian antitiroid diteruskan dengan dosis yang lebih kecil. Jadi selama pengobatan dengan antitiroid harus diperhatikan ada tidaknya gejala hipotiroidisme secara klinis maupun laboratories. Perubahan fungsi tiroid menuju normal umumnya disertai pengecilan goiter. Goiter yang membesar selama pengobatan inidisebabkan olehhipotiroidisme yang timbul karena terapi berlebihan.
Sebagian kecil pasien dengan hipertiroidisme dapat mengalami remisi spontan setelah menjalani terapi antitiroid selama 1 tahun.
Keuntungan penggunaan antitiroid a.l. mengurangi tindakan operatif dan segala komplikasi yang mungkin timbul dan juga mengurangi terjadinya miksedema yang menetap karena penggunaan yodium radioaktif. Selain itu semua kelainan yang ditimbulkan oleh antitiroid umumnya reversible, sehingga obat ini bisa diberikan sebagai terapi sementara sambil menunggu tindakan yang lebih tepat. Pada ibu hamil dan hipertiroidisme, antitiroid merupakan obat terpilih (propiltiourasil) karena tiroidektomi sering menimbulkan abortus. Yodium radioaktif tidak dapat diberikan terutama setelah trimester pertama kehamilan, karena merusak kelenjar tiroid fetus.
Antitiroid pada umumnya tidak berefek buruk pada kehamilan tetapi sebaiknya dosis obat ini dikurangi terutama pada trimester ketiga kehamilan untuk menghindari terjadinya goiter pada fetus.
Sediaan antitiroid ssering digunakan bersama-sama yodium untuk persiapan operasi tiroid pada pasien hipertiroidisme. Bila hanya antitiroid saja yang diberikan, maka vaskularisasi tiroid akan bertambah dan kelenjar jadi lebih rapuh sehingga menyulitkan jalannya operasi. Dengan pemberian yodium, vaskularisasi dan kerapuhan tersebut akan berkurang.
POSOLOGI
Propiltiourasil tersedia dalam bentuk tablet 50 mg. Biasanya diberikan dengan dosis 100 mg setiap 8 jam.
Metimazol (1-metil-2-merkaptoimidazol) tersedia dalam bentuk tablet 5 mg dan 10 mg; dosis dianjurkan 30 mg sekali sehari.
Karbimazol suatu derivate metimazol terdapat dalam bentuk tablet 5 mg dan 10 mg; dosisnya sama dengan metimazol.
Bila telah diperoleh efek terapi,  dosis diturunkan untuk menghindari timbulnya hipotiroidisme.
Tabel 27-2. FARMAKOKINETIK ANTITIROID
Farmakokinetik
Propiltiourasil
Metimazol
Ikatan protein plasma
T 1/2
Volume distribusi
Metabolisme pada gangguan hati
Metabolisme pada gangguan ginjal
Dosis
Daya tembus sawar plasenta
Jumlah yang disekresikan dalam ASI
75%
75 menit
20 L
Normal

Normal

1-4 kali/hari
Rendah
Sedikit
-
4-6 jam
40 L
Menurun

Normal

1-2 kali/hari
Rendah
Sedikit

8.      KONTRAINDIKASI
  Tumor uterus
  Tumor payudara yang bergantung pada hormon
  Enometriosis
  Gangguan fungsi hati yang parah
  Ikterus kehamilan  idiopatik
  Pruritus kehamilan yang parah dalam anamnesis
  Penyakit – penyakit tromboemboli
  Wanita hamil atau menyusui, gangguan fungsi hepar, riwayat trombosis atau emboli, hipertensi, penyakit jantung, perdarahan vagina yang belum jelas penyebabnya, adenoma mamma atau adanya tumor pada alat reproduksi.

C.     HORMON ESTROGEN
1.      PENGERTIAN HORMON ESTROGEN
Hormon estrogen adalah hormon seks yang diproduksi oleh rahim untuk merangsang pertumbuhan organ seks, seperti; payudara dan rambut pubik; mengatur siklus menstruasi. Hormon estrogen juga menjaga kondisi kesehatan dan elastisitas dinding vagina, serta memicu produksi cairan vagina. Mereka juga berperan menjaga tekstur dan fungsi payudara.

            Pada perempuan hamil, hormon estrogen membuat puting payudara membesar, dan merangsang pertumbuhan kelenjar ASI. Selain itu, hormon estrogen juga memperkuat dinding rahim saat terjadi kontraksi menjelang persalinan. Namun, hormon estrogen juga akan melunakkan jaringan-jaringan tubuh, sehingga jaringan ikat dan sendi-sendi tubuh menjadi lemah (tidak kuat menyangga tubuh untuk sementara waktu). Akibatnya, ibu hamil kerap mengalami sakit punggung.
Banyak senyawa steroid dan non steroid baik alami maupun sintetik , yang mempunyai aktivitas estrogenic.  Selain struktur intinya juga terdapat perbedaan dalam hal potensi estrogeniknya dan lama kerjanya; 17-β estradiol adalah estrogen alami paling poten kemudian disusul estrol dan estriol paling lemah, sedangkan etinilestradiol merupakan estrogen sintetik paling poten.
Table 29-1       BEBERAPA SENYAWA YANG MEMPUNYAI AKTIVITAS ESTROGENIK
Senyawa :
Steroid alami
Steroid sintetik
Non steroid

Estradiol
Etinilestradiol
Dietilstilbestrol (DES)

Estron
Mestranol
Bisfenol a*

Estriol equilin
quinestrol
Genistein

*Terdapat dalam bahan pembuat plastic
Estradiol, dapat diberikan oral dan masa kerja lebih panjang dari estrogen alami. Senyawa non steroid lain yang berefek estrogenic atau anti estrogenic umumnya berasal dari tumbuhan al. Dietilstilbestrol (DES), estrogen non steroid sintetik pertama dengan potensi estrogenic sama dengan flavonoid, isoflavon (mis. genistein) dan kumestan, dapat ditemukan di berbagai tanaman. Golongan terakhir ini dikenal sebagai fitoestrogen.
2.      FARMAKOKINETIK
Berbagai jenis estrogen dapat diberikan oral, parenteral, transdermal ataupun topical. Karena sifat lipofiliknya absorpsi per oral baik. Ester estradiol dapat diberikan IM, bervariasi mulai dari beberapa hari sekali sampai 1 bulan sekali. Pemberian transdermal (transdermal patch) yang diganti setiap 1-2 kali seminggu  umumnya berisi estradiol yang absorpsinya terjadi secara kontinu melalui kulit.
Umumnya etinilestradiol, conjugated estrogen, ester estron, dietilstilbestrol, diberikan ral. Estradiol oral, absorpsi cepat dan lengkap, mengalami metabolism lintas- pertama di hepar yang ekstensif, substitusi etinil pada atom C17 dapat menghambat proses tersebut. Preparat orang lain, conjugated equine estrogen (ester sulfat dari estron), equilin, senyawa alami lain yang dihidrolisis oleh enzim di intestine bagian bawah hingga gugus sulfat terlepas dan estrogen di absorpsi di intestine.
Transdermal estradiol patch. Pengelepasan hormone berlangsung lambat. Kontinu, di distribusi sistemik, kadar dalam darah lebih konstan daripada per oral. Cara pemberian ini juga tidak menyebabkan kadar tinggi dalam darah yang dapat mencapai sirkulasi portal, mungkin inilah yang menyebabkan efeknya pada profil lipid berbeda.
Absorpsi estradiol valerat atau estradiol sipionat setelah pemberian dosis tunggal IM, berjalan lambat sampai beberapa minggu, karenanya pemberiannya 1-4 minggu sekali. Di dalam darah umumnya estrogen alami terikat globulin pengikat hormone kelamin steroid (sex steroid-binding globulin, SSBG) dan sedikit terikat albumin.
3.      EFEK SAMPING
Reaksi yang sering timbul, antara lain gangguan siklus haid, mual atau bahkan muntah, rasa kembung, edema, berat badan bertanbah. Yang lebih serius pusing, migraine, kloasma terutama pada kulit muka, peningkatan tekanan darah, thrombosis, proliferasi endometrium atau varises. Estrogen dapat menin gkatkan kadar globulin pengikat tiroid. Pasien dengan fungsi tiroid normal dapat mengkompensasi keadaan ini dengan membentuk lebih banyak hormone tiroid hingga kadar T3 dan T4 serum normal. Tetapi  pasien dengan tiroid hormone replacement terapi bila menggunakan estrogen akan membutuhkan dosis tiroid lebih tinggi. Kadar tiroid bebas pada pasien ini harus di monitor agar kadarnya berada pada kisaran yang normal.
Reaksi yang sering timbul antara lain ;
  Gangguan siklus haid
  Mual atau bahkan muntah
  Rasa kembung
  Edema
  Berat badan bertambah
  Peningkatan tekanan darah
  Proliferasi endometrium atau varises
  Dll
4.      SEDIAAN DAN DOSIS
Estriol, tablet 1 dan 2 mg, masa kerja singkat karena ikatannya paa sel target singkat, afinitas terhadap protein plasma rendah, cepat di eliminasi dari tubuh, dosis 2-4 tablet sehari; Estradiol valerat tab 2 mg; dosis 1 tablet sehari; 17-β estradiol patch 100 µg/hari; Etinilestradiol tab 50 µg, masa kerja lebih panjang, dosis ½ -1 tablet sehari, Estropipat (Na-estron sulfat) 0,625 mg, dosis 1 atau 2 tab sehari. Semua ini digunakan pada defisiensi estrogen, osteoporosis pascamenopause. Untuk kontrasepsi, lihat preparat kontrasepsi hormonal.

5.      INDIKASI
  Kontrasepsi. Estrogen sintetik paling banyak digunakan untuk kontrasepsi oral dalam kombinasi dengan progestin.
  Menopause. Pada usia sekitar 45 tahun umumnya fungsi ovarium menurun. Terapi pengganti estrogen dapat mengatasi keluhan akibat gangguan vasomotor, antara lain hot flushes, vaginitis atropikans dan mencegah osteoporosis.
  Vaginitis Senilis atau Atropikans. Radang pada vagina ini sering berhubungan dengan adanya infeksi kronik pada jaringan yang mengalami atrofi. Dalam hal ini, estrogen lebih berperan untuk mencegah daripada mengobati.
  Osteoporosis. Keadaan ini terjadi karena bertambahnya resorpsi tulang disertai berkurangnya pembentukan tulang. Pemberian estrogen dapat mencegah osteoporosis berkelanjuitan atau dapat pula diberikan estriol.
  Karsinoma Prostat. Karena estrogen menghambat sekresi androgen secara tidak langsung maka hormon ini digunakan sebagai terapi paliatif karsinoma prostat.
6.      KONTRAINDIKASI
  Tumor uterus
  Tumor payudara yang bergantung pada hormon
  Enometriosis
  Gangguan fungsi hati yang parah
  Ikterus kehamilan  idiopatik
  Pruritus kehamilan yang parah dalam anamnesis
  Penyakit – penyakit tromboemboli
  Wanita hamil atau menyusui, gangguan fungsi hepar, riwayat trombosis atau emboli, hipertensi, penyakit jantung, perdarahan vagina yang belum jelas penyebabnya, adenoma mamma atau adanya tumor pada alat reproduksi.
D.    PROGESTERON
1.      PENGERTIAN HORMON PROGESTERON
Progesteron merupakan hormon steroid kelamin alamiah yang diproduksi di tempat yang sama dengan estrogen.
Progesteron adalah hormon wanita lain dalam tubuh dengan efek progestogenik. Progesterone bertanggung jawab pada perubahan endometrium pada paruh kedua siklus mestruasi. Progesterone menyiapkan lapisan uterus (endometrium) untuk penempatan telur yang telah dibuahi dan perkembangannya, da mempertahankan uterus selama kehamilan.
Fungsih utama progesteron adalah untuk menstimulasi perkembangan endometrium (lining uteri lapisan dalam rahim) dan kelenjar susu jika terjadi kehamilan. Pada hari ke 14 siklus menstruasi,folikel terlepas atau pecah dan melepaskan telur (ovulasi). Telur masuk ke tuba fallopi tempat sel telur akan dibuahi. Walaupun progesteron tidak merangsang ovulasi akan tetapi mempengaruhi motilitas tuba fallopi dan mempengaruhi lingkungannya sehingga sesuai untuk transfor ovum.
Dalam pengaruh LH,folikel berubah menjadi korpus luteum. Korpus luteum terus memproduksi estrogen dan mulai menginduksi progesteron. Progesteron sangat diperlukan untuk perkembangan dari endometrium ( inplantasi dari telur yang sudah dibuahi), dan memacu kelenjar mamma.
Jika  tidak terjadi pembuahan pada minngu ke 3 siklus menstruasi,korpus luteum mengecil dan produksi hormon berhenti. Karena keberadaan endometrium sangat tergantung pada estrogen dan progesteron maka ketika sekresinya berhenti terjadilah perdarahan (mensrtuasi).
2.      MACAM-MACAM OBAT
Mifepriston
Mifeprostan adalah antiprogesteron yang bekerja sebagai antagonis partial terhadap progesteron. Pemberian antiprogesteron pada awal kehamilan dapat menyebabkan aborsi. Pemberian PGE1 anatau analognya, yaitu Misoprostol setelah pemberian dasis tinggi Mifepriston efektif untuk mengakhiri gestasi (kehamilan).
Mifepriston juga dapat digunakan sebagai obat kontrasepsi yang hanya diberikan sekali dalam 1 bulan. Umumnya diberikan pada minngu ke3 siklus menstruasi, tetapi obat ini atau yang bekerja demikian tidak di izinkan beredar di indonesia.

Mifepristol adalah Derivat 19-nor-progestin noretindron yang mengandung substitusi dimetil-aminofenil pada posisi 11 β, merupakan antagonis potent reseptor progeston dan glukokortikoid
Pada pemberian oral cukup aktif dan bioavailabilitasnya tinggi dengan masa paruh 20-40 jam.
Indikasi : pada hamil ektopik, abortus inkomplit atau perdarahan yang hebat.
Efek samping : yang lebih sering rasa sakit di abdomen, kram uterus, mual, muntah, dan diare.

Secara kimia, progesteron dibagi menjadi 2 kelompok:
Derivat progesteron: hidroksiprogesteron, medroksiprogesteron, megestrol, dan didrogesteron.
Derivat testosteron: noretisteron, tibolon, norgestrel, linestrenol, desogestrel, gestoden dan alilestrenol. Semua zat ini memiliki efek androgen kecuali Alilestrenol. Linestrenol, Noretisteron dan Tibolon berefek estrogen. Norgestrel, Desogestrel dan Gestoden memiliki efek antiestrogen yang kuat, begitu juga dengan Noretisteron, Linestrenol, Megestrol dan Medroksiprogesteron tetapi lebih lemah.

3.      FARMAKOKINETIK
Progestron oral lebih cepat mengalami metabolisme lintas pertama di hepar, karenanya bioavailabilitas oralnya rendah dan lebih banyak digunakan IM atau suppotoria vaginal atau diberikan bersama alat kontrasepsi dalam rahim atau intrauterine devices (AKDR/IUD).
Derivat progestin, medroksi progestron asetat (MPA) dan megastrol asetat dapat diberikan oral, karena metabolisme hepar lebih sedikit dari progestron alami, masa kerja lebih panjang, 7-24 jam karenanya cukup diberikan 1x sehari. Hidroksiprogestron kaproat bdan MPA diberikan IM. Ekskresi semua sediaan melalui urin.
4.      INDIKASI
Kontrasepsi, wanita pascamenopause, kombinasi dengan estrogen, lihat indikasi estrogen, abortus imminens/ancaman abortus; ancaman lahir prematur; abortus habitualis; kanker endometrium; perdarahan fungsional endometrium.
Derivat progestin telah digunakan untuk terapi paliatif karsinoma endometrium yang telah bermetastis, megestrol asetatsbagai terapi lini kedua untuk  karsinoma mammae.
5.      KONTRAINDIKASI
Meningioma adalah yang kedua yang paling umum neoplasma primer dari sistem saraf pusat , yang timbul dari "cap" sel arakhnoid dari vili arakhnoid di meninges . Tumor ini biasanya jinak di alam, namun mereka bisa ganas .

PENYEBABNYA
Kebanyakan kasus sporadis sementara beberapa yang kekeluargaan .Orang yang telah menjalani radiasi ke kulit kepala lebih berisiko untuk meningioma berkembang.
Mutasi genetik yang paling sering terlibat dalam meningioma adalah inaktivasi mutasi pada 2 neurofibromatosis gen (merlin) pada kromosom 22q.
gen lain yang mungkin / lokus meliputi:
Ø  MN1  MN1
Ø  PTEN  PTEN
Ø  gen yang tidak diketahui pada 1p13
Tumor kecil (misalnya, <2,0 cm) biasanya temuan yang terkait di otopsi tanpa menyebabkan gejala. Tumor yang lebih besar dapat menyebabkan gejala tergantung pada ukuran dan lokasi.
·         Focal kejang bisa disebabkan oleh meningioma yang menimpa otak besar.
·         kelemahan spastik Progresif di kaki dan inkontinensia dapat disebabkan oleh tumor yang menimpa wilayah frontoparietal parasagittal.
·         tumor Sylvian dapat menyebabkan motor segudang, sensorik, aphasic, dan gejala kejang tergantung pada lokasi.
·         Peningkatan tekanan intrakranial akhirnya terjadi, tetapi kurang sering daripada di glioma .

DIAGNOSIS
Meningioma dapat segera divisualisasikan dengan kontras CT , MRI dengan gadolinium , dan arteriografi, semua dihubungkan dengan fakta bahwa meningioma yang ekstra-aksial dan vascularized. CSF protein is usually elevated if lumbar puncture is attempted. CSF protein biasanya meningkat jika pungsi lumbal dicoba.
Meskipun sebagian besar meningioma jinak, mereka dapat memiliki presentasi ganas. Klasifikasi meningioma didasarkan pada sistem klasifikasi WHO
·         Jinak (Grade I) - (90%) - meningothelial, berserat, transisi, psammomatous, angioblastic (paling agresif)
·         Atypical (Grade II) - (7%) - koroid, sel jernih, atipikal
·         Anaplastik / ganas (Grade III) - (2%) - papiler, rhabdoid, anaplastik

PENGOBATAN
Pengamatan dengan pencitraan dekat tindak lanjut dapat digunakan dalam kasus-kasus pilih jika meningioma adalah kecil dan tanpa gejala. Dalam sebuah penelitian retrospektif pada 43 penderita, ditemukan bahwa 63% pasien tidak memiliki pertumbuhan pada tindak lanjut, dan 37% ditemukan mengalami pertumbuhan tumbuh rata-rata 4 / tahun mm. [12] Dalam studi ini, lebih muda pasien ditemukan memiliki tumor yang lebih mungkin untuk tumbuh pada pencitraan ulangi, dengan demikian adalah calon miskin untuk observasi. . Dalam studi lain hasil klinis dibandingkan untuk 213 pasien yang menjalani operasi vs 351 pasien di bawah pengawasan waspada. Hanya 6% dari pasien dirawat konservatif kemudian dikembangkan gejala, sedangkan di antara merawat pasien pembedahan 5,6% mengembangkan kondisi wajar gigih, dan 9,4% mengembangkan kondisi wajar terkait dengan pembedahan.
Pengamatan tidak dianjurkan pada tumor yang telah menyebabkan gejala. Selanjutnya, tutup tindak lanjut dengan pencitraan diperlukan dengan strategi observasi untuk menyingkirkan tumor pembesaran.

TERAPI RADIASI
Terapi radiasi dapat mencakup sinar foton atau sinar pengobatan proton, atau sinar radiasi eksternal difraksinasi . Radiosurgery dapat digunakan sebagai pengganti operasi pada tumor kecil yang terletak jauh dari struktur kritis. difraksinasi radiasi sinar eksternal juga dapat digunakan sebagai pengobatan utama untuk tumor yang dioperasi pembedahan, atau untuk pasien yang bisa dioperasi karena alasan medis.
Terapi radiasi sering dipertimbangkan untuk WHO Grade I meningioma setelah subtotal (lengkap) reseksi tumor. Keputusan klinis untuk menyinari setelah reseksi subtotal agak kontroversial karena tidak ada kelas I percobaan terkontrol acak ada pada subjek. Banyak studi retrospektif, bagaimanapun, telah sangat menyarankan bahwa penambahan radiasi pasca-operasi untuk reseksi lengkap meningkatkan kemajuan baik free survival (yaitu mencegah terjadinya kembali tumor) dan meningkatkan kelangsungan hidup keseluruhan.

KEMOTERAPI KONVENSIONAL
Kemoterapi saat ini cenderung tidak efektif.  agen Antiprogestin telah digunakan, namun dengan hasil yang variabel. bukti terbaru bahwa HU memiliki kapasitas untuk mengecilkan atau berulang meningioma dioperasi sedang dievaluasi lebih lanjut.

E.HORMON ANDROGEN
1.      PENGERTIAN ANDROGEN
Androgen merupakan hormon steroid yang rumus kimianya berciri 19 atom C engan inti steroid. Di samping androgen terdapat pula precursor androgen yang disebut juga proandrogen. Androgen dan proandrogen di sintesis oleh testis, ovarium dan korteks adrenal laki-laki dan perempuan. Testosterone merupakan androgen utama yang di sekresi oleh testis pada pria, testosterone juga androgen utama pada wanita. Proandrogen androstenedion dan dehidroepiandrosteron bersifat androgen lemah yang diubah di perifer menjadi testosterone.
2.      MACAM-MACAM OBAT HORMONE ANDROGEN
a.       Estrogen
Estrogen merupakan antiandrogen alami. Efek estrogen pada jaringan target berlawanan dengan efek androgen. Slain itu estrogen juga merupakan penghambat kuat sekresi gonadotropin sehingga secara sekunder menghambat sekresi testosterone.

b.      Progesterone
Merupakan antiandrogen lemah. Beberapa derivate progesterone dengan gugus 1,2-α-metilene, misalnya siprosteron asetat merupakan antiandrogen yang paling kuat. Siprosteron asetat juga memiliki sifat progestogenik dan menghambat sekresi gonadotropin. Obat ini merupakan penghambat kompetitif androgen disamping menghambat produksi testosterone. Pemberian 200 mg siprosteron asetat selama 10 sampai 14 hari pada laki-laki menurunkan libido yang berlebihan. Efeknya terhadap libido ini menyebabkan siproteron asetat tidak mungkin digunakan sebagai kontrasepsi laki-laki. Selain itu hasil penelitian menunjukan bahwa efektifitas siprosteron sebagai kontrasepsi laki-laki tidak konsisten. Efek lain yang mengganggu adaah ginekomastia. Siproteron efektif untuk terapi pubertas prekoks, tetapi ternyata efek sampingnya berat yaitu menghambat efek anabolic androgen dan pertumbuhan anak. Siproteron juga efektif untuk hirsutisme berat dikombinasikan dengan estrogen.
Beberapa penelitian dengan siproteron asetat 200-300 mg per hari menunjukan hasil yang cukup baik untuk hipertrofi prostat dan karsinoma prostat. Klormadinon asetat, analog siproteron digunakan pada karsinoma prostat dengan dosis 100 mg perhari.
Agonis dan antagonis GnRH digunakan untuk menurunkan sekresi testosterone. Analog GnRH diberika secara berlebihan terus-menerus akan menurunkan sensitifitas dan jumlah reseptor GnRH (down regulation) sehingga produksi LH akan menurun yang diikuti dengan penurunan produksi testosterone. Obat ini dipakai untuk terapi kanker prostat. Abareliks adalah antagonis GnRH yang juga dipakai untuk kanker prostat, terutama untuk yang telah metastasis ke sum-sum tulang belakang.

c.       Flutamid
Merupakan suatu antiandrogen yang buka steroid sehingga tidak memperlihatkan aktifitas hormone. Kerjanya mungkin melalui perubahan in vivo menjadi 2-hidrosiflutamid dan mengakibatkan regresi organ-organ yang dipengaruhi testosterone. Misalnya prostat dan vesicular seminalis. Karena mekanisme umpan balik testosterone dipengaruhi maka terjadi peningkatan LH dan testosterone plasma. Kenaikan testosterone plasama ini dapat menjadi pembatas efek flutamid yang berlebihan. Oleh karena itu flutamid paling bermanfaat untuk menghambat androgen adrenal pasien yang mendapat GnRH terus-menerus, atau pada wanita (produksi LH nya tidak terkontrol oleh androgen). Kegunanaan klinik flutamid ialah untuk kanker prostat 3 kali sehari, diberikan bersama GnRH analog. Contoh GnRH analog adalah leuprolid, buserelin, leuprorelin, goserelin, dalam bentuk sediaan suntikan depo yang diberika 3 bulan sekali. Bicalotamin ternyata lebih aman dan pengguanaannya lebih mudah yaitu satu kali sehari. Sedangkan nilotamid kurang aman dibanding keduanya.
Selain itu flutamid juga bermanfaat untuk terapi hirsutisme pada perempuan, tetapi efek samping pada hepar membatasi keguanaan kosmetik tersebut.

d.      Finasterid
Merupakan sediaan penghambat kompetitif enzim 5-α-reduktase tipe II yang aktif secara oral. Dutasterid menghabat tipe I dan II. Kedua obat ini menurunkan kadar DHT plasama dan prostat tanpa peningkatan LH atau testosterone dan diindikasikan untuk hyperplasia prostat jinak. Efek sampingnya impotensi dapat diketahui mekanismenya. Finsaterid juga bermanfaat untuk  hirsutisme wanita dan male pattern baldness pada pria.beberapa obat misalnya spironolakton dan simetidin memperlihatkan efek anti androgen sebagai efek sampingnya, tetapi sekarang telah terbukti bahwa spironolakton dapat digunakan pada wanita dengan hirsutisme dengan efek samping haid yang irregular.

3.      MEKANISME KERJA
Testosteron dari plasma masuk ke sel target dengan cara difusi. Tergantung jaringan dan fungsi sel yang dimasukinya testtosteron dapat bekerja langsung sebgai androgen melalui ikatan denga reseptor androgen, atau dengan berubah dahulu menjadi dehidrotestosteron (DHT) yang kemudian akan berikatan dengan resptor androgen yang sama tetapi dengan afinitas yang lebih tinggi. Testeron juga dapat bekerja sebagai estrogen di jaringan yang mempunyai enzim aromatase (CYP19, ada di banyak jaringa terutama di hepar dan jaringan lemak)yang aka mengubahnya menjadi estrasiol yang kemudian bekerja melaui reseptor estrogen. Efek ini nyata pada tulang yaitu pada penutupan epifisis dan peningkatan densitas tulang. Beberapa penelitian menunjukan perannya pada libido bila diberikan pada difisiensi CYP19.
Di prostat dan vesikula seminalis, 90% testosterone di ubah oleh enzim 5α-redutase menjadi dehidrotestoren (DHT) yang lebih aktif berfungsi sebagai mediator intrasel hormon tersebut. DHT berikatan dengan reseptor di stoplasa 10x lebih kuat di banding dengan tesostero dan kompleks DHT-reseptor lebih muda menjadi bentuk aktif dan berikatan dengan DNA dari pada kompleks testosteron – reseptor. Ini menjelaskan kelebihan DHT di banding testosterone dalam hal potensi androgeniknya. DHT berperan pada genitalia eksterna saat diferensiasi pada masa gestasi, maturasi pada pubertas, serta timbulnya penyakit prostat.
Tidak semua jaringa target memerlukan perubahan testosterone menjadi DHT. Testosterone langsung bekerja pada perkembangan duktus wolfii dalam masa embrional, masa dan keeuatan oto rangka, eritropoesis, dan pada sel sertoli. Beberapa penelitian menunjukan efeknya pada peningkatan kepadatan tulang. Dalam susunan saraf pusat, sebagian efek testosteron terjadi karena aromatisasinya menjadi estradiol. Pada rangsangan pertumbuhan folikel rambut, DHT lebih berperan dari pada testosterone.
Testosteron atau DHT berikatan dengan reseptor di sitoplasma, kemudian kompleks steroid- reseptor ini mengalami modifikasi dan translokasi kedalam nucleus dan berikatan dengan tempat ikatan spesifik( specific binding sites) pada kroososm.hal ini menyebabkan aktifitas RNA polymerase meningat di ikuti peningkatan sintesis RNA spesifik dan selanjutnya peningkatan sintesis protein. Modifikasi kompleks steroid – reseptor serta peningkatan sintesis asam nukleat dan proten spesifik tersebut sangat kompleks. Jenis reseptor seperti ini sama dengan reseptor hormone steroid lainnya dan hormone tiroid, disebut nuclear reseptor superfamily. Keseluruhan mekanisme kerja androgen dengan perbedan efek dalam berbagai jaringan baru dapat di jelaskan akhir – akhir ini. Pertama, DHT mempunyai afinitas terhadap reseptor lebih dari pada testosterone. Kedua, ada mekanisme lain yang juga mempengaruhi kerja androgen, yaitu adanya ko- factor transkripsi berupa ko- activator maupun ko- reseptor yang bersifat spesifik jaringan target. Sampai saat ini, peran ko- factor transkripsi ini pada reseptor nuclear lainnya. Mekanisme kerja androgen pada perempuan sama dengan laki – laki.
Ditemukan adanya mutasi reseptor androgen yang menjelaskan beberapa kelainan klinik. Sehubungan dengan obat, masalah dapat timbul pada pengobatan kanker prostat yaitu bila kemudian terjadi perubahan dari androgen sensitive menjadi androgen insensitive sehingga pada tahap tertentu pengobatan dengan menurunkan kadar atau anti androgen menjadi tidak bermanfaat lagi Karena kanker kembali berkembang dalam kondisi rendah androgen. hal ini kini dapat di jelaskan dengan kemungkinan terjadi mutasi gen reseptor androgen atau perubahan pada co – regulatory protein reseptor androgen.
Usaha untuk memisahkan efek androgenic dari efek anabolic androgen belu berhasil, seba semua kerja hormone androgen yag di kenal sampa saat ini di perantarai satu reseptor protein yang sama. Pada pemasaran produk sering di kaakan suatu produk lebih berefek anabolic dan kurang berefek androgenic berdasarka penurunan kadar N urin (parameter peningkatan anabolisme protein atau penurunan katabolisme protein) tidak berhubungan dengan efek androgenic . hal ini hanya terbukti pada hewan coba; pada manusa kedua efek masih berjalan bersamaan.

4.      INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI
Penggunaan alkil androgen hanya untuk edema, angioneurotik herediter atau terapi jangka pendek pada penyakit berat karena preparat ini hepatotoksik.
Androgen sebaiknya tidak diberikan pada pasien laki-laki dengan karsinoma prostat atau karsinoma payudara. Selama efek-efek hormon ini pada sistem saraf pusat anak yang sedang berkembang belum diketahui dengan jelas, maka pemberian androgen-androgen ini pada bayi dan anak-anak sebaiknya dihindarkan.
Penggunaan steroid androgenic dikontraindikasikan pada wanita – wanita hamil atau wanita – wanita yang mungkin hamil selama jalannya terapi.
Androgen sebaiknya tidak diberikan pada pasien-pasien laki-laki dengan karsinoma prostat atau karsinoma payudara. Selama efek-efek hormone ini pada system saraf pusat anak yang sedang berkembang belum diketahui dengan jelas, maka pemberian androgen-androgen ini pada bayi dan anak-anak sebaiknya dihindarkan.
Jika obat-obat ini digunakan pada anak-anak dengan tujuan untuk mencapai pertumbuhan maksimal, maka obat-obat ini harus diberikan dengan sangat hati-hati. Pada sebagian besar pasien, pengguananan somatotorpin adalah lebih tepat.
Harus dilakukan dengan hati-hati juga ketika memberikan obat-obat ini pada pasien-pasien dengan penyakit jantung yang predisposisi dapat menimbulkan edema. Jika terjadi retensi natrium dan air pasien akan merespon terapi direuktika.
Terapi metiltestosteron dihubungkan dengan terjadinya kreatinuria, terapi signifikansi temuan ini tidak diketahui.
5.      DOSIS
Pemberian dosis diambil dari sediaan dagang karena pemberian dosis sebagian besar bergantung pada senyawa yang digunakan dan indikasinya masing-masing.

6.      EFEK SAMPING
a.       Maskulinisasi
Pada perempuan, semua sediaan androgen berefek maskulinisasi. Gejala dini ialah pertumbuhan kumis, acne, merendahnya nada suara. Gangguan menstruasi akan terjadi bila sekresi gonadotropin terhambat. Gejala-gejala ini dapat hilang bla penggunaan androgen segera dihentikan. Setelah pengobatan jangka lama, misalnya pada karsinoma payudara, efek samping ini irreversible. Efek maskulinisasi lebih kecil dengan sediaan anabolic atau sediaan androgen lama. Androgen dikontraindikasikan pada kehamilan berdasarkan kemungkinan efek maskulinisasi janin perempuan.
b.      Feminisasi
Efek samping ginekosmatia cenderung terjadi pada laki-laki, terutama yang ada gangguan hepar. Hal ini mungkin berhubungan dengan aromatisasi androgen menjadi estrogen, sebab pemberian ester testosterone meningkatkan kadar estrogen plasma pada laki-laki. Diketahui bahwa enzim aromatase lebih aktif pada anak dari pada dewasa, sedangkan pada gangguan hepar metabolisme androgen menurun sehingga lebih banyak androgen ke periver mengalami aromatisasi. Efek samping ini tidak terjadi pada penggunaan steroid yang direduksi pada posisi 5-α misalnya oksandrolon.

c.       Penghambatan spermatogenesis
Androgen diperlukan untuk spermatogenesis, tetapi penggunaan androgen dosis rendah jangka panjang justru dapat menghambat spermatogenesis. Androgen dosis tersebut cukup untuk menghambat sekresi LH, FSH, dan testosterone endogen sehingga kadar testosterone di dalam testis tidak cukup untuk berlangsungnya spermatogenesis normal. Hal ini terjadi karena aromatisasi testosterone menjadi estrogen, penghambat kuat  sekresi gonadotropin.
Androgen dosis tinggi juga menghambat sekresi testosterone endogen, tetapi kadar plasma yang dicapai jauh diatas normal (dengan segala konsekwensi efek sampingnya), jadi kadar testosterone dalam testis cukup untuk spermatogenesis.

d.      Hyperplasia prostat
Pada laki-laki usia lanjut, androgen dapat merangsang pembesaran prostat karena hyperplasia; hal ini menyababkan obstruksi. Juga kemungkinan munculnya kanker prostat yang mungkin tadinya tidaknya terdeteksi. Karena itu perlu perhatian khusus bila digunakan pada laki-laki usia lanjut.

e.       Gangguan pertumbuhan
Hati-hati memberikan androgen pada anak-anak prapubertas, sebab dapat terjadi pubertas prekoks. Jangan memberikan anabolic steroid untuk merangsang pertumbuhan anak yang meskipun berbadan kecil tetapi normal dan sehat. Pemberian untuk gangguan pertumbuhan tertentu harus dilakukan oleh ahli hormone anak karena biasanya bukan hanya androgen yang diperlukan. Androgen mempercepat penutupan epifisis sehingga mungkin anak tidak akan mencapai tinggi badan yang seharusnya. Beratnya efek samping ini tergantung dari usia tulang, obat yang dipakai dosis dan lama terapi. Efek samping ini dapat bertahan kurang lebih 6 bulan meskipun pemberian androgen di hentikan.
Pada laki-laki dengan hipogonadisme, terapi androgen pada awalnya dapat menimbulkan priapismus, efek samping ini akan hilang walaupun terapi di teruskan.

f.       Edema
Pada dosis terapi untuk hipogonadisme retensi cairan biasanya tidak sampai menimbulkan edema. Pemberian androgen dosis besar misalnya pada pengobatan neoplasma menimbulkan edema yang disebabkan oleh retensi air dan elektrolit. Hal ini harus dipertimbangkan sewaktu memberikan androgen pada pasien gagal jantung, penyakit ginjal, sirosis hepatis, dan hipoprotenemia.

g.      Ikterus
Metiltesteosteron merupakan androgen yang pertama diketahui dapat menimbulkan hepatitis kolestatik. Ikterus jarang terjadi dan reversible bila obat dihentikan. Bila timbul ikterus hal ini disebabkan stasis empedu dalam kapiler bilier tanpa kerusakan sel kemudian diketahui bahwa keadaan ini ditimbulkan oleh 17-α-alkil steroid. Testosterone dan ester testosterone tidak menimbulkan efek samping ini, karena itu ester testosterone lebih sering digunakan dalam klinik. Efek samping ikterus berhubungan dengan dosi dan muncul 2 sampai 5 bulan setelah mulai terapi. Karena itu steroid 17-α-alkil dipakai hanya untuk jangka pendek 3 sampai 4 minggu, di susul massa istirahat yang sama lamanya.
Obat ini sebaiknya tidak diberikan pada pasien penyakit hati, walaupun terpaksa harus disertai perhatian khusus. Pemberian steroid derifat 17-α-alkil memperbesar timbulnya keganasan hepatoseluler dan endothelial terutama pada penggunaan dosis besar jangka panjang misalnya pada terapi anemia refrakter.

h.      Hiperkalsemia
Hiperkalsemia dapat timbul pada perempuan pasien karsinoma payudara yang di obati dengan androgen. Pada keadaan ini terapi androgen harus dihentikan dan diberi cairan yang cukup (hidrasi)serta diberi pengobatan terhadap hiperkalsemia.

7.      PENANGANAN
Androgen telah menggunakan terapi medis yang sah. Mereka yang diresepkan untuk laki-laki ketika testosteron tidak diproduksi secara alami oleh tubuh. Androgen sintetis datang dalam bentuk pil, patch, dan bentuk suntik. Mereka lebih sering diresepkan untuk anak-anak laki-laki untuk membuat testis tidak turun turun, Orto membawa pubertas tentang laki-laki ketika serius tertunda. Pada pria dewasa, androgen yang digunakan untuk memperbaiki kekurangan hormon alami dan untuk mengurangi "menopause pria" gejala seperti kurangnya dorongan seks, kecemasan, dan depresi. Beberapa androgen yang digunakan untuk mengobati kekerdilan karena kemampuan mereka untuk merangsang pertumbuhan.
Keperluan medis sah androgen pada perempuan termasuk penggunaan mereka dalam mengobati beberapa jenis kanker payudara dan anemia. Kadang-kadang androgen diberikan setelah melahirkan untuk mengurangi rasa sakit pada payudara dan kepenuhan pada wanita yang memilih untuk tidak menyusui. Wanita yang mengalami perubahan gender juga androgen diberikan untuk meningkatkan karakteristik laki-laki mereka.







BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin atau kelenjar buntu. Kelenjar ini merupakan kelenjar yang tidak mempunyai saluran sehingga sekresinya akan masuk aliran darah dan mengikuti peredaran darah ke seluruh tubuh. Apabila sampai pada suatu organ target, maka hormon akan merangsang terjadinya perubahan. Pada umumnya pengaruh hormon berbeda dengan saraf. Perubahan yang dikontrol oleh hormon biasanya merupakan perubahan yang memerlukan waktu panjang. Contohnya pertumbuhan dan pemasakan seksual.
B.      SARAN


Pendahuluan
Manusia menggunaka waktu dan usahanya untuk melakuakan kegiatan, baik yang
disadari maupun yang tidak dsadari, pada hakikatnya adalah untuk mempertahankan
hidupnya. Makan, minum, istirahat, tidur, adalah tindakan yang secara sadar dilakukan untuk
memenuhi kebutuahan tubuh, sedangkan organ-organ tubuh misalnya jantung, ginjal, paru-
paru, usus, bekerja untuk memenuhi kebutuhan tubuh melalui suatu mikanisme yang tidak
kita sadari atau tidak kita kendalikan.
Tubuh manusia merupakan suatu sistem yang berkerja dan menimbulkan usaha, mirip apabila
kita bandingkan dengan suatu mesin. Organ-organ tubuh merupakan komponen-komponen
yang saling mempengaruhi, bekerja sama secara terpadu. Apabila ada salah satu komponen
yang tidak bekerja dengan baik maka keseluruhan sistem akan merasakan dampaknya.
Disamping itu tubuh manusia tidak terlepas dari pengaruh lingkunagan luar. Cuaca panas
atau dingin, adanya bahaya yang mengancam, adanya rangsangan umtuk bereproduksi pada
hewan merupakan tanda-tanda yang diterima melalui sistem syaraf, misalya mata, telinga,
raba, dan lain-lainnya. Tubuh juga harus mampu memberikan reaksi atau tanda tanda dari
dalam tubuh sendiri, misalnya rasa lapar, haus, lelah dan sebagainya.
Untuk dapat melakukan kegiaan dan dapat memberikan reaksi terhadap perubahan-perubahan
eksternal maupun internal diperlukan adanya koordinasi yang tepat di antara kegiatan organ-
organ tubuh. Dalam hal ini siste endokrin merupakan suatu sistem yang dapat menjaga
berlangsungnnya integrasi kegiatan organ tubuh. Hormon yang diahasilakan oleh sistem
endokrin ini memegang peranan yang sangat penting.
Sistem endokrin yang terdiri atas kelenjar-kelenjar endokrin yang terdiri atas kelenjar-
kelenjar endokrin dan bekerja sama dengan sistem syaraf, mempunyai peranan penting dalam
mengendalikan kegiatan organ-organ tubuh kita.
Kata hormon mempunyai arti senyawa yang merangsang. Istilah hormon diperkenalkan untuk
pertama kali pada tahun 1904 oleh willam bayliss dan emest starling untuk menerangkan
kerja sekretin, suatu molekul yang dihasilan oleh duodenum yang merangsang keluarnya
cairan pankreas. Konsep tentang hormon kemudian berkembang, bahwa (1) hormon adalah
molekul yang dihasilkan oleh jaringan tertentu (kelenjar). (2) hormon dikeluarkan langsung
kedalan darah yang membawanya ketepat tujuan dan (3) hoemon secara khas mengubah
jegiatan suatu jaringan tertentu yang menerimanya.
Hormon terdiri atas berbagi macam senyawa yang dapat digolongkan dalam tiga kelompok ,
yaitu:
a. Steriod, yaitu androgen, estorogen dan adrenokortikoid
b. Derivat asam amino, yaitu epinefrin dan tiroksin
c. Peptida –protein yaitu insulin, glukagon, parathormon, oksitosin, vasopresin, hormon
yang dikeluarkan oleh mukosa usus dan lain-lainnya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar